Minggu, 11 November 2012

Senyummu, Senyumku



Bau yang khas, kasur putih, selimut putih, tirai putih, tembok yang bercat putih, dan lainnya yang serba berwarna putih. Inilah tempatku tinggal atau tepatnya rumah sakit yang setiap hari aku tempati sejak penyakit ini datang ke tubuhku, tempatku menunda lembaran hidupku yang semakin menipis. Hanya tidur malas dan tidak melakukan apa-apa.
“Uhuk.. uhuk..”
Penyakit ini terus saja meraung-raung untuk segera memakan rohku yang sudah melayang-layang di udara.
“Uhuk.. uhuk..”
Sakit, rasanya dada ini sakit bila sesuatu yang ada dalam tubuh rapuh ini terus memberontak. Sakit sekali.
“Uhuk.. uhuk.. “ darah kental berwarna merah keluar dari mulut pucat ini. Rasanya ingin sekali mengakhiri hidup ini secepat mungkin, agar raga ini tak terus menderita. Agar jiwaku terbang bebas sesuka hati. Melihat luasnya dunia yang telah lama ku tinggalkan.
Tapi, masih ada 'dia'. 'Dia' yang selalu tersenyum untukku. 'Dia' yang selalu temani hari-hari semuku. 'Dia' yang selalu menyemangatiku untuk terus hidup menghadapi derita ini dengan lebih berwarna.
SRAAKK!!
“Pagi~ aku bawa sesuatu untukmu, Pasti kamu suka!” Pintu kamarku dibanting dengan ganas oleh ‘dia’, namanya Shania Junianatha. Perempuan yang aku sayangi sekaligus aku cintai.
“Apaan tuh, shan?” tanyaku padanya sambil tersenyum. Entah kenapa, bila bersama dengan dia rasanya aku selalu bahagia. Inilah kenapa aku ingin terus bertahan hidup.
“Tada~” dia memperlihatkan sesuatu kepadaku.
“Ini dia~ Ada tomat dan jus tomat tanpa gula kesukaanmu.” aku tersenyum melihat tingkahnya, padahal umurnya sudah 17 tahun, tapi sifat dan tingkah lakunya masih seperti anak kecil.
“Ah, terima kasih shan.” Kulihat dia mengambil tomat dan membuka tutup jus tomat yang dibawanya.
“Mau yang mana dulu? Tomat atau jus tomat?” Tanyanya dengan wajah polos, lucu rasanya kalau melihatnya memasang ekspresi seperti itu. Tapi, bukan tomat yang aku inginkan darimu tapi aku ingin terus melihat senyum manismu diwaktuku yang sudah tidak lama lagi ini, hanya itu Shan, pikirku dalam hati.
“Terserah kau saja.” Aku kembali tersenyum kapadanya. Aku rela memberi senyum ini terus untuknya, asal dia mau tersenyum padaku juga.
“Kalau begitu jus tomat ya? ya?” Diapun menaruh kembali tomat ke dalam plastik.
“Ayo buka mulutnya, aaa~~” Dia mencoba meyuapiku.
“Aku bisa minum sandiri.” Aku langsung merebut jus tomat darinya dan mencubit pipinya gemas.
“Aw sakit!” Dia balas mencubit pipiku. Aku sangat bahagia  kalau dia sudah di sisiku, bercanda bersama, bersedih bersama, membagi keluh kesah bersama walau lebih banyak dia yang berbicara sedangkan aku hanya menjadi pendengar.
Ah! Aku memegang dadaku, mencoba untuk menahan sakit, dadaku kembali berdenyut kencang, sakit sekali. Tolong, kumohon tubuhku bertahanlah dulu, aku masih ingin bercanda dengannya.
“Uhuk.. uhuk.. Uhuk..” Lagi, mulutku mengeluarkan darah dan kali ini lebih banyak dari yang sebelumnya.
“Ah, kau mengeluarkan darah lagi!! Aku panggilkan dokter dulu.” Dia beteriak panik dan langsung pergi ke luar untuk memanggil dokter. Jangan, jangan pergi Shan, tetaplah disini kumohon.
Shania sudah lari keluar, aku tidak bisa menghadangnya. Aku tidak bisa mengeluarkan suara. Dada ini terasa sangat sakit. Pandanganku mengabur, dan semua menjadi gelap.

***


“Dokter, bagaimana dengan keadaannya?”  Samar-samar aku mendengar suara dari luar tempatku berbaring lemah. Itu suara Shania.
“Maaf , kami sudah melakukan sebisa kami tapi, pasien hanya tinggal menunggu waktu saja.” Aku bisa mendengar perkataan dokter itu walaupun samar-samar.
“Ti-tidak mungkin kan dok?! Itu pasti bohong?!”  Teriak shania yang kaget mendengar perkataan dokter.
“Maaf, saya benar-benar minta maaf.” Bisa kudengar isakan tangis shania, shan kumohon jangan menangisiku.
Tinggal menunggu waktu saja ya? akupun memejamkan mataku dan berdoa semoga saja aku masih bisa melihat senyum shania besok dan seterusnya.

***

Sraakk!
Suara pintu yang terbuka. Namun hari ini tidak seheboh yang kemarin.
“Pagi~ bagaimana keadaanmu?” sapanya riang. Tapi aku tahu itu cuma topeng dibalik wajah sedihnya.
“Maaf ya aku tidak membawakan apa-apa, tadi aku buru-buru kesini jadi tidak sempat mampir membeli sesuatu hehe.”  Dia tersenyum, tapi aku bisa merasakan senyum itu berbeda dari senyumnya yang lain. Senyum itu seperti senyum yang dipaksakan. Shania pun duduk tepat di sebelahku sambil menggenggam erat tanganku.
“Pagi. Sudah agak mendingan kok.” aku mencoba tersenyum. Tapi, senyum kali ini rasanya susah sekali untuk dikembangkan.
Tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Aku.. menangis?
“E-eh, kenapa menangis?” shania langsung memasang muka kaget dan khawatir. Entahlah, rasanya aku ingin sekali menangis.
“Tenanglah..” tiba-tiba Shania memelukku.
Tapi, bukannya berhenti menangis aku malah menangis semakin menjadi. Kenapa denganku, kenapa aku yang jarang menangis jadi cengeng seperti ini?
“Shania.” aku balas memeluknya.
“Tenanglah, aku akan tetap di sini.” Aku bisa merasakan dia juga ikut menangis.
“Jangan tinggalkan aku.” Pintaku pada shania.
“Iya, tidak akan.” Shania melepas pelukan kami.
“Shan, boleh aku meminta sesuatu?”
“Ya, boleh.” Aku menghapus bekas air mata di pipinya.
“Tersenyumlah untukku.” Mungkin ini adalah permintaan terakhirku padanya.
“Ya, aku akan tersenyum untukmu bahkan setiap haripun boleh.” Diapun tersenyum sangat manis. Maaf Shan sepertinya ini yang terakhir. Malaikat maut sudah menjemputku, dia sedang tersenyum padaku sekarang, aku tidak bisa melawan takdir lagi. Aku bahagia kau sudah mau tersenyum padaku selama ini.
“Aku mencintaimu…”  aku membisikkan perasaan tulusku tepat pada telingannya.
“Ya, aku juga mencintaimu..” dia kembali membisikan ucapan itu di telingaku.
“Uhuk.. uhuk.. Uhuk..” aku mulai batuk lagi, yang ini lebih parah dan lebih banyak mengeluarkan darah. Aku melihat shania panik dan memanggil-manggil dokter.
“Dokter!! Dokter!! Tolong dokter!!” Shania mulai berteriak dengan liarnya. Tidak, kali ini aku tidak mau kau pergi.
“S-shan..” kugenggam erat tangannya.
“A-aku akan memanggi dokter, bertahanlah!!” dia mulai menangis kembali.
“Ja… jangan pergi… temani a-aku di sini..” pintaku.
“Ta-tapi..”
“Ku…mohon…”
“Baiklah..”  Shania kembali duduk di sampingku. Aku kembali memeluknya dalam. Tangisannya pun semakin deras. Akupun tersenyum, menikmati saat-saat terakhirku bersamanya.
Aku menutup mataku perlahan. Tenang… sangat tenang. Rasanya sangat ringan saat aku memejamkan mataku, dan semuanya pun menjadi putih.

Kau adalah cahaya bagiku
Senyummu memberiku harapan terakhir
Senyummu memberiku kehangatan mentari
Saat kau tersenyum
Hatiku hangat terselimuti surya
Kau adalah aku
Senyummu adalah senyumku
Takkan pernah hilang terkikis masa
Terus terbingkai dalam hatiku
Berikanlah...
Berikanlah senyummu…
Selamanya…
Tetaplah menjadi suryaku
Hingga aku terlahir kembali
Melihat senyummu kembali
Dan saat itu… tunggulah aku…

Writer By : @Ibnu_FN